Menggabungkan potongan-potongan informasi, lalu menjadikannya sebuah cerita dan kesimpulan yang utuh adalah hal biasa, karena secara tidak sadar kitapun tentu sering melakukannya. Yang tidak biasa adalah ketika yang melakukannya tidak sendiri. Potongan informasi itu diperoleh dari beberapa orang, dan beberapa orang tersebut mengambil kesimpulan bersama tanpa melakukan konfirmasi/cross-check/tabayyun terhadap informasi yang sepotong-sepotong tersebut. Kita menyebut hal ini dengan gosip/ghibah. Beberapa pihak mengemasnya dalam bentuk yang bisa dijual, dan mereka namakan produk itu sebagai infotainment.
Namun, yang tidak biasa ini bisa menjadi luar biasa jika ternyata pihak yang melakukannya adalah akhwat-akhwat yang telah mendapat ‘pendidikan’ Islam secara rutin. Akhwat-akhwat yang tsaqofah keislamannya tidak perlu diragukan. Akhwat-akhwat yang diharapkan menjadi pilar peradaban Islam.
Apakah mereka lupa dengan firman Allah di surat Al Hujuraat ayat 12 yang berbunyi: “…Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan (ghibah) satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…”?
Namun yang lebih luar biasa adalah jika yang dibicarakan tentang saudaranya tersebut bukan kebenaran, melainkan sebuah kebohongan. Sebagaimana Rasulullah ditanya mengenai ghibah beliau menjawab: “Kamu menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika apa yang aku katakan mengenai saudaraku itu benar adanya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu memang benar, maka kamu telah menggunjingnya (ghibah); dan jika apa yang kamu katakan itu tidak benar, maka kamu telah mendustainya.” (HR. Muslim)
Jika ghibah sendiri diumpamakan dengan memakan bangkai saudaranya, apalagi jika yang mereka bicarakan tentang saudaranya ini adalah sebuah kebohongan, tentu lebih menjijikan dari itu bukan? Apakah mereka lupa tentang hal ini? Apakah mereka belum tahu tentang hal ini?
Atau apakah mereka menganggap gue BUKAN SAUDARA mereka!!!???
Wallahu a’lam bi al-shawab…
Tangerang, 5 Januari 2008
22:27 WIB