Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2009

Antara Gus Dur, Musa, dan Pemimpin Dakwah Kita

Apa yang menarik dari seorang Gus Dur? Saya kira, selain sikap nylenehnya, hampir tidak ada yang menarik pada dirinya. Yang menarik bagi saya adalah para pengikut dan pemujanya yang begitu fanatik, yang menganggap Gus Dur pemimpin mereka dan siap mati untuknya.

Sikap fanatisme ini terus dipertahankan walaupun beberapa kali Gus Dur sering mengecewakan. Gus Dur sering sekali menjilat ludahnya sendiri, membual tentang banyak hal, dan bahkan mempertontonkan aurat ketika dulu menjadi presiden. Apakah pendukung fanatiknya menutup mata akan hal ini? Ataukah mereka menganggap Gus Dur telah melampaui tahapan hakkat, tahap menyatu dengan Allah, sehingga Gus Dur sah-sah saja dalam melanggar syariat? Sungguh sebuah "khusnudzon" yang berlebihan, kalau tidak bisa dikatakan pengkultusan.

Berbeda dengan para pendukung Gus Dur, Musa as. justru menggunakan instingnya sebagai manusia tanpa mengenyampingkan sikap khusnudzonnya. Ketika Musa as. berguru pada seorang yang telah diberikan ilmu oleh Allah, Musa as. menunjukan hal ini. Kita telah mengetahui bahwa dalam pendidikannya bersama Khidhr as. Musa diberikan syarat oleh pemimpin spiritualnya tersebut untuk tidak bertanya, apapun yang dilakukan gurunya itu. Musa as. pun menyanggupi.

Ketika mereka menaiki sebuah perahu seorang nelayan yang sangat miskin, Khidhr as. merusaknya. Maka insting kemanusiaan Musa as. pun tergetar. Walaupun Khidhr adalah guru dan pemimpin spiritualnya, Musa as. tak dapat membiarkan kezhaliman ini terjadi. Musa as. pun bertanya kepada Khidhr as. tentang perbuatannya tersebut. Begitu juga dengan 2 perbuatan Khidhr as. selanjutnya, yaitu ketika Khidhr as. membunuh seorang anak muda, dan menegakkan dinding rumah. Musa as. bertanya, alih-alih mendiamkan atau menentang. Maka Musa as. pun mengajarkan kepada kita tentang keseimbangan antara insting kemanusiaan (dengan tidak mendiamkan kezhaliman yang ada), dan sikap khusnuzhon (dengan tidak langsung berbalik menjadi penentang).

Lalu bagaimana dengan gerakan-gerakan dakwah hari ini? Gerakan-gerakan mulia yang mengajak manusia untuk mengesakan Allah, mengajak mereka untuk berhukum hanya kepadaNya, dan bahkan bercita-cita mulia untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah. Para pemimpin (Qiyadah) gerakan-gerakan ini tentunya membutuhkan dukungan penuh dari jundi-jundinya. Mereka menuntut ketaatan. Tapi di sisi lain, jundi-jundi dakwah ini tentu membutuhkan penjelasan tentang setiap gerakan yang diputuskan oleh qiyadah. Mereka menuntut pendidikan.

Sebagai manusia, tentu para pelaku gerakan dakwah ini tak lepas dari kesalahan. Terkadang para qiyadah lebih mengutamakan tuntutan mereka akan ketaatan jundinya, dengan mengabaikan hak jundinya untuk mendapatkan pendidikan. Maka yang terjadi adalah jundi-jundi yang muak dengan arogansi. Merekapun membentuk barisan sakit hati. Tapi terkadang, jundi-jundi ini justru memberikan ketaatan penuh, dengan mengabaikan hak pendidikan mereka, dan juga mengabaikan hak para qiyadah untuk mendapatkan nasihat dan pengingatan, Maka yang terjadi adalah fanatisme buta. Sebuah gerakan dakwah yang tinggal menunggu waktu untuk menjadi gerakan sesat.

Sebuah contoh telah diberikan oleh qiyadah kita bersama, Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud, dikisahkan tentang dua orang Anshar yang memergoki Rasulullah saw. malam-malam berjalan bersama seorang wanita. Tanpa bertanya, mereka langsung bergegas pergi mempercepat jalannya. Rasulullah saw. pun memanggil mereka, menyerukan mereka agar tidak terburu-buru, dan menyebutkan bahwa wanita yang bersama beliau adalah Shafiyyah binti Huyai. Setelah kedua orang Anshar itu bertasbih, Rasulullah saw. pun bersabda, "Sesungguhnya syaithan itu mengalir dalam tubuh anak Adam seperti mengalirnya darah. Maka aku khawatir jika ia melontarkan sesuatu yang tidak baik ke dalam hati kalian."

Kedua sahabat Anshar tadi tentu memiliki sikap khusnudzhon kepada Rasulullah saw., apalagi mereka tahu bahwa Rasulullah saw. adalah manusia yang maksum, terbebas dari kesalahan sekecil apapun. Tapi bagi seorang Rasulullah saw., sikap khusnudzon saja ternyata tidak cukup, karena tanpa mendapat penjelasan yang sempurna, pintu-pintu syaithan masih terbuka. Maka beliau saw. pun menunaikan haknya sebagai seorang qiyadah untuk memberi pendidikan pada jundinya, memuaskan insting kemanusiaan mereka, dan menutup pintu-pintu syaithan yang masih terbuka untuk berbagai macam prasangka. Wallahu 'alam bish showab.

Tangerang, 16 April 2009
14:10 WIB
Share:

Rabu, 04 Februari 2009

Mari Kita Didik Anak Kita

Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman saya sebagai pembina asrama adalah tentang kewajiban orang tua mendidik anaknya dan implikasi dari kewajiban tersebut. Karena di asrama nan jauh di sana, saya menemukan contoh menarik yang dapat dijadikan perbandingan.

Jika anda tidak sepakat bahwa orang tua wajib mendidik anaknya, maka jangan teruskan membaca tulisan ini, karena asumsi dasar dari tulisan ini adalah tentang kewajiban orang tua dalam mendidik anak. Tetapi jika anda sepakat dengan saya, maka saya akan mengingatkan lagi dasar dari kewajiban mendidik anak dalam Al Quran dan sunnah.

Tentu kita ingat tentang surat dalam Al Quran yang mengkhususkan diri dalam masalah pendidikan anak. Yap, benar sekali. Itu adalah surat Luqman. Surat itu menceritakan tentang segala aspek yang perlu kita ketahui dalam mendidik anak, mulai dari sikap dalam mendidik, materi, sampai pada tahapan dalam mendidik. Silahkan anda baca surat Luqman ayat 13, 16 sampai 19.

Al Quran juga menceritakan kepada kita tentang bagaimana para Nabi mendidik anak-anaknya, mulai dari Ibrahim as. (QS.2:132), Nuh as. (QS. 11:42), sampai kepada Ya'qub (QS. 12:87). Walaupun tidak diceritakan secara lengkap, tapi kita dapat mengambil pelajaran bahwa bahkan para nabi pun, yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab besar serta tugas yang teramat berat, masih sempat untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Karena apa? Karena ini memang kewajiban yang dibebankan Allah kepada hambaNya, tak peduli siapapun dia.

Lalu bagaimana dengan Rasulullah saw.? Dalam hal ini saya mengutip hadits sahih yang cukup populer mengenai pendidikan anak: "Rasulullah saw. bersabda: 'Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat bila mereka telah berusia tujuh tahun, dan pukullah jika meninggalkannya pada saat mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur!'" (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim yang mengatakan hadits ini sahih atas syarat Muslim).

Mengapa cuma sholat? Mungkin anda bertanya seperti ini. Lalu aspek lainnya mana? Dan pertanyaan ini langsung mengikuti. Sebenarnya, secara tidak langsung, banyak hal yang diwajibkan kepada kita sebagai orang tua dan calon orang tua dengan pendidikan sholat ini. Kita tentu masih ingat pelajaran tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan sholat, mulai dari aspek hukum, syarat sah sholat, aspek psikologis dalam sholat, sampai aspek sosial dalam sholat berjamaah.

Mari kita ambil satu contoh tentang syarat sah sholat. Sholat bisa disebut sah jika mengikuti kaidah sebagai berikut: Pertama, dilakukan tepat waktu. Kedua, suci dari hadats kecil dan hadats besar. Ketiga, suci badan, pakaian, dan tempat sholat dari najis. Keempat, menutup aurat. Kelima, menghadap kiblat. Dan keenam, mengikuti tata cara sholat yang dicontohkan Nabi saw.

Dari satu aspek tentang syarat sah sholat ini saja, kita harus mengajarkan pada anak kita minimal enam hal seperti disebutkan di atas. Dan jika kita ambil contoh hal kedua dari aspek ini, maka secara tidak langsung kita diharuskan untuk memberikan pendidikan sex pada anak kita, terutama yang berkaitan dengan mimpi basah dan menstruasi.

Itu baru satu aspek. Jika kita taat kepada Rasulullah saw., maka mau tidak mau kita harus menggali dan mengajarkan semua aspek dalam sholat kepada anak kita. Dan jika kita melakukan hal tersebut, maka kita akan menemukan bahwa pendidikan sholat ini ternyata mencakup seluruh aspek dalam hidup kita, juga dalam hidup anak-anak kita. Berat bukan?

Lalu apakah kita yang harus melakukan itu semua? Itulah gunanya sekolah.

Bersambung...


Tangerang, 4 Februari 2009
07:50 WIB
Share: