Kamis, 29 Januari 2009

Berkaca melalui Karya

Semalam saya memback-up tulisan-tulisan saya di MP ini ke dalam komputer saya. Ternyata banyak juga tulisan-tulisan saya yang hilang dari komputer akibat bermain-main dengan format-memformat hardisk. Akibatnya, saya harus mengcopy-paste satu persatu tulisan-tulisan tersebut.

Selama proses back-up tersebut, saya membaca satu persatu tulisan saya, mulai dari tulisan terbaru sampai tulisan jaman dulu. Banyak hal menarik yang saya temukan selama saya melakukan proses tersebut, salah satunya adalah berkaitan dengan perubahan.

Sebagai seorang manusia, saya tentu mengalami perkembangan, tidak hanya berkaitan dengan masalah fisik, tapi juga masalah perkembangan mental, intelektual, dan spiritual. Berkaitan dengan hal di atas, ternyata perkembangan ini dapat saya lihat melalui perubahan tulisan saya dari waktu ke waktu. Banyak hal yang berubah, meski tidak semua.

Mengapa bisa saya katakan demikian? Karena setiap tulisan saya  memiliki konteks ruang dan waktu yang berbeda. Tulisan-tulisan ini menjadi pemicu dalam otak saya untuk mengingat konteks ruang dan waktu ketika proses pembuatannya. Dengan demikian, saya dapat membandingkan konteks ruang dan waktu yang pernah saya alami, juga cara pandang saya terhadap hal ini.

Disini saya tidak akan menjelaskan  tentang perubahan dan perkembangan apa saja yang saya alami. Saya disini hanya ingin berbagi bahwa ternyata dengan membaca perubahan dalam tulisan-tulisan saya, membuat saya dapat melihat perkembangan yang saya alami. Lumayanlah untuk ajang mengevaluasi diri.

Tangerang, 29 Januari 2009
06:38 WIB
Share:

Rabu, 28 Januari 2009

Melintas Batas Pemikiran, dalam Satu Wilayah Keimanan

Jika Islam adalah sebuah pulau, maka mayoritas penduduk yang ada di dalamnya, menetap dalam satu wilayah yang sama, tanpa pernah menjelajahi pulau tersebut. Ada yang menetap di dalam wilayah terbuka bak lapangan, ada juga yang menetap di dalam wilayah tertutup dengan pagar pembatas yang menjulang. Ada yang menetap di dalam wilayah yang padat penduduknya, ada juga yang menetap di dalam wilayah yang terpencil jauh dari keramaian.
Karakter penduduk tetap inipun berbeda-beda. Ada yang hidup rukun dan berdampingan dengan tetangganya di wilayah lain, ada yang justru bermusuhan. Ada yang membuka diri terhadap para tamu dari wilayah lain, ada juga yang merasa asing dan justru baru mengetahui bahwa wilayah lain tuh ada.

Penduduk tetap pulau inipun berkembang biak dalam wilayah yang sama. Masing-masing berlomba untuk memperluas wilayah pengaruhnya. Mereka juga berlomba untuk memperbanyak jumlah penduduknya. Jarang terjadi asimilasi pernikahan antar tetangga, bahkan beberapa wilayah membuat tembok pembatas yang sangat ketat atas masalah ini. Tak heran jika di beberapa wilayah, pernikahan antar tetangga menjadi sesuatu yang diharamkan.

Dulu, di pulau ini pernah ada yang namanya kesatuan. Mereka berada dalam satu kepemimpinan, sehingga walaupun berbeda, mereka tetap memiliki tujuan yang sama. Sekarang, hal ini menjadi sejarah masa lampau yang mulai dilupakan penduduknya. Bahkan banyak diantara mereka yang mulai mempertanyakan keabsahan sejarah yang ada, mengaitkannya dengan ketidaksesuaian jaman, dan justru mempromosikan sejarah penduduk pulau lain yang dianggapnya lebih relevan.

Dulu, di pulau ini masih banyak para petualang. Menjelajah wilayah demi wilayah untuk mencari hikmah yang terserak, menuliskannya dalam kitab-kitab tebal  tak terbayang. Kitab-kitab yang justru diklaim oleh penduduk tetap saat ini sebagai dasar pembagian wilayah mereka. Kitab-kitab yang sebenarnya menawarkan persatuan, tapi diinterpretasikan sebagai perbedaan.

Maka tak heran jika pulau inipun semakin menyempit. Wilayah pinggiran telah tenggelam ataupun diklaim sebagai bagian dari pulau lain. Bahkan banyak penduduk pulau lain yang menyeberang kesini hanya untuk mengajak penduduk pulau ini pergi. Penduduk pulau lain yang mengajak untuk melintas batas pemikiran dan melintas batas iman.

Tangerang 28 Januari 2008
20:55 WIB
Share:

Senin, 26 Januari 2009

Menjelajah dalam Ketidakpastian

Satu hal yang sering terjadi dalam rangkaian penjelajahan saya di alam bebas adalah ketika saya harus menjelajah dalam ketidakpastian. Tidak pasti apakah jalan yang saya tempuh ini merupakan jalan yang benar menuju tujuan yang telah ditetapkan. Tidak pasti kemanakah jalan untuk kembali pulang. Beberapa orang menyebut situasi ini dengan istilah nyasar.

Yap, saya sering nyasar. Entah sudah berapa kali, yang pasti cukup sering sehingga teman-teman yang sering pergi dengan saya, juga pernah merasakan hal yang sama. Apalagi jika saya  menjadi satu-satunya orang yang mengetahui jalan, atau satu-satunya orang yang bisa membaca jalan. Bahkan di tempat yang sudah pernah beberapa kali saya jelajahi, hal itu juga terjadi.

Kenapa saya bisa nyasar?  Sebagai seorang yang cukup mengenal diri saya sendiri, saya bisa mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah kemampuan spasial saya yang berada di bawah rata-rata. Ditambah lagi, kemampuan ini tidak saya latih, yang menyebabkan saya banyak berjalan menggunakan insting.

Sebagai informasi,  kemampuan spasial adalah kemampuan seseorang untuk mempersepsi, memetakan ruang (tempat), serta mengolahnya menjadi bentuk informasi yang dapat dipergunakan. Dan kemampuan saya dalam mempersepsi ruang, terutama ruang-ruang di perkotaan dan lingkungan ramai, berada di bawah rata-rata. Ditambah lagi dengan kurang aktifnya saya dalam memetakan dan mengolah informasi ruang yang saya persepsi, menambah seringnya saya kehilangan orientasi. Terutama dalam ruang baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Lalu apakah kemampuan spasial ini bisa dilatih? Yap, tetapi  hanya terbatas pada pemetaan dan pengolahan ruang menjadi informasi. Jika ditambah dengan pengorganisasian informasi ini dengan baik, maka seharusnya kelemahan bawaan dalam hal persepsi ini mudah diatasi. Buktinya saya cukup pandai dalam orienteering di alam bebas. Dengan menggunakan peta dan kompas, saya bisa menentukan posisi saya dengan akurasi yang cukup lumayan. Tapi masalahnya, hal ini tidak digunakan ketika saya berjalan.

Lalu faktor apalagi yang membuat saya bisa nyasar? Faktor kedua yang menyebabkan saya nyasar adalah keinginan saya untuk mencoba jalan baru. Yap, terkadang ketika terlalu sering melalui jalan yang sama kita tentu merasa bosan. Apalagi jika jalan tersebut telah menjadi jalan yang biasa dilalui orang banyak. Ditambah dengan perasaan ingin mencoba tantangan baru, maka mulailah saya bergerilya. Biasanya jika sudah begini saya akan memperlambat jalan saya, mempertajam pandangan, mencari jalan lain yang KIRA-KIRA menuju arah yang sama, menempuhnya, dan akhirnya kehilangan orientasi (nyasar).

Sedangkan faktor ketiga yang membuat saya nyasar adalah kesombongan. Hal yang saya sesali, tapi pengalamannya benar-benar membekas di hati. Faktor ini pernah membuat saya nyasar dua kali, dan keduanya merupakan pengalaman nyasar saya yang paling parah, antara hidup dan mati. Dari keduanya saya mendapatkan banyak pelajaran berbeda, walaupun ada satu pesan yang sama, yaitu JANGAN PERNAH MEREMEHKAN ALAM. Sekecil apapun kawasan alam itu, sesering apapun kita melewatinya, dan seramai apapun, 1001 kemungkinan bisa terjadi diluar sana.

Lalu, apa yang saya rasakan ketika saya nyasar? Tentu saja ketidakpastian. Suatu perasaan yang menimbulkan ketidaknyamanan. Tidak nyaman, karena dalam ketidakpastian saya tahu bahwa hal terburuk dapat saja terjadi pada saya dan teman-teman perjalanan. Bahwa perjalanan yang saya tempuh akan berujung pada kegagalan.

Tapi ketidakpastian juga dapat membunuh rasa bosan, memicu adrenalin, dan membuat indera, pikiran, serta perasaan saya menjadi lebih tajam, karena sebagai makhluk hidup, kita tentu punya insting untuk bertahan. Dan ketidakpastian  juga mengajarkan saya tentang betapa pentingnya harapan, karena jika dalam ketidakpastian itu saya tidak memiliki harapan untuk bertahan dan pulang, tentu sekarang saya masih berada di tengah hutan. Menjadi manusia hutan. He2...

Tangerang, 26 Januari 2009
07:04 WIB
"Mengejar mimpi yang tak pasti..."
Share:

Minggu, 25 Januari 2009

First Thing

First Thing in The Morning...
You're The One Who I'm Thinking Of...
I Don't Know What I'm Feeling...
Or maybe This is Love...


(Alhamdu lillahil ladzi radda 'alaiya ruhi, wa 'afani fi jasadi, wa adzina li bidzikrihi)
Share:

Minggu, 18 Januari 2009

Palestina Diserang Kera

Barusan saya membaca sebuah ayat menarik di Al Quran, surat Al Baqarah ayat 65. Bunyinya seperti ini: “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina.”” Ayat ini juga memiliki footnote mengenai penafsiran tentang menjadi kera. Ada ulama yang mengatakan bahwa kera disini adalah hanya berupa sifat-sifatnya, dan kaum yang dikutuk menjadi kera tersebut tidak benar-benar menjadi kera, tetapi hanya memiliki sifat-sifat seperti kera. Tetapi pendapat jumhur (sebagian besar) mufassir (ulama penafsir Al Quran) menjelaskan tentang ayat ini bahwa menjadi kera disini berarti benar-benar menjadi kera, baik penampakan, sifat, maupun perilaku.

Dan tahukan anda kaum apa yang dikutuk menjadi kera tersebut? Yap, kaum Yahudi. Ayat ini merupakan rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebebalan kaum Yahudi. Menjelaskan tentang rangkaian pengkhianatan mereka terhadap Nabi Musa dan nabi-nabi penerusnya. Menjelaskan tentang betapa Allah Maha Pemurah dan Maha Pengampun, karena walaupun sudah dikhianati berkali-kali, Dia tetap memberikan ampunan kepada hamba-hambaNya. Tidak heran jika kemudian kaum Yahudi ini Dikutuk menjadi kera.

Membaca ayat tersebut juga mengingatkan saya tentang banyak sekali konspirasi-konspirasi global yang dilakukan oleh kaum Yahudi ini, tentang holocaust, krisis global 1998, perang dunia 1 dan 2, dan sebagainya. Membersitkan ide dalam pikiran saya bahwa ada satu lagi konspirasi global terkait dengan ilmu pengetahuan, yaitu teori evolusi Darwin.

Teman-teman pasti masih ingat bahwa kita banyak dicekoki dengan teori evolusi, yang ujung-ujungnya menjelaskan bahwa manusia berasal dari kera. Walaupun banyak terdapat missing link, tapi teori ini tetap mendapat sambutan yang luar biasa. Walaupun sangat tidak ilmiah, tapi teori ini tetap mendapat apresiasi yang besar dari kaum ilmuwan. Bukankah ini ciri khas sebuah konspirasi, terlihat aneh dan tidak masuk akal, tetapi tetap berjalan dalam tatanan global. Yap, saya meyakini bahwa teori evolusi adalah salah satu dari konspirasi global yang dilancarkan kaum Yahudi.

Pertanyaan selanjutnya mungkin terkait dengan motivasi kaum Yahudi melancarkan teori ini. Jika teman-teman membaca lagi tulisan saya dari awal, dan meyakini kebenaran Al Quran, maka motivasi kaum Yahudi ini sangat jelas. Bahwa mereka adalah kaum yang sangat eksklusif, sangat tertutup, dan sangat menjaga kemurnian ras mereka. Bahkan mereka lebih bangga dengan ras mereka dibandingkan kebanggaan Nazi terhadap ras Arya. Dan kebanggaan terhadap ras, tentu saja menyiratkan bahwa kaum ini merupakan kaum yang sangat menghargai leluhurnya.

Ok, sudah jelas khan alur pemikiran saya tentang penjelasan konspirasi ini. Kalau belum begini alurnya: Pertama, leluhur kaum Yahudi dikutuk menjadi kera. Tentu saja tidak semuanya karena kalau iya, maka mereka saat ini tentu sudah binasa. Kedua, kaum Yahudi sangat menghargai leluhur mereka. Ketiga, dengan penghargaan yang sangat tinggi terhadap leluhurnya, dan mendapati bahwa sebagian leluhur mereka pernah dikutuk menjadi kera,, maka merekapun menyusun teori konspirasi untuk menggerakkan manusia diluar kaumnya agar menghargai kera seperti mereka. Keempat, maka diutuslah Darwin menjadi boneka mereka dalam dunia ilmiah, yang melahirkan teori evolusi, yang intinya menjelaskan bahwa manusia itu berasal dari kera.

Dan keturunan kera itu sekarang benar-benar mencoba menguasai dunia, seperti apa yang digambarkan film Planet of the Apes (jangan-jangan ini juga film konspirasi ya, hehe). Wajar jika kera mengabaikan peraturan yang ada. Wajar jika kera berbuat semaunya. Dan amat wajar jika kera-kera itu terus menyerang Palestina, karena kutukan Allah terhadap kaum Yahudi, pasti masih ada dalam sifat dan perilaku anak cucu kera tersebut. Wallahu 'alam bish showab.

Tangerang, 18 Januari 2009
15:10 WIB
“Terkutuklah kalian keturunan kera”
Share: